Entri Populer

Kamis, 22 Desember 2011

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI USIA 3 BULAN DENGAN TUMBUH KEMBANG NORMAL (IMUNISASI DPT-HB I POLIO II)

 LAPORAN
 ASUHAN PADA BAYI USIA 3 BULAN
DENGAN TUMBUH KEMBANG NORMAL
(IMUNISASI DPT-HB I POLIO II)
DI PUSKESMAS RAWASARI

Dosen pembimbing:
Suci Rahmani Nurita S.SiT



Di susun oleh:
Dewi sulfia           (2009-41-021)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAITURRAHIM JAMBI
TA 2010/2011

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR        i
DAFTAR ISI        ii
BAB I  PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang        1
1.2    Tujuan        2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1    Defenisi Tumbuh Kembang        3
2.2    Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang        3
2.3    Tahap-tahap tumbuh kembang        4
2.4    Perkembangan pada anak        5
2.5    Penyebab ganggun tumbuh kembang        8
2.6    Imunisasi          8
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1.    Pengkajian Pengumpulan Data        16
3.2.    Interpretasi Data Dasar         23
3.3.    Identifikasi Doagnosa Masalah Potensial         23
3.4.    Identifikasi Doagnosa Masalah Tindakan Segera        23
3.5.    Interverensi/Rencana        24
3.6.    Impelementasi/Pelaksanaan        24   
3.7.    Evaluasi         24
BAB IV PEMBAHASAN          25
BAB  V PENUTUP
5.1.    Kesimpulan        26
5.2.    Saran        26
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
            Sejak dulu sampai di era sekarang ini orang tua  kurang memperhatikan tumbuh kembang anaknya, mereka lebih sibuk dengan urusan mereka dari pada memantau tumbuh kembang anaknya. Bukan hanya orang tua yang ekonominya rendah saja yang berbuat seperti itu tapi juga orang tua yang ekonominya bisa dibilang lebih, mereka sibuk dengan pekerjaan mereka.
 Penilaian dan pemantauan tumbuh kembang anak perlu dilakukan untuk menentukan apakah tumbuh kembang seorang anak berjalan normal atau tidak, baik dilihat dari segi medis maupun statistic. Anak yang sehat akan menunjukkan tumbuh kembang yang optimal, apabila diberikan lingkungan bio-fisiko-psikososial yang adekuat.
            Proses tumbuh kembang merupakan proses yang berkesinambungan mulai dari kontrasepsi sampai dewasa, yang mengikuti poal tertentu yang khas untuk setiap anak. Proses tersebut merupakan proses interaksi yang terus – menerus serta rumit antara factor genetic dan factor lingkungan bio-fisiko-psikososial tersebut. Untuk mengetahui tumbuh kembang anak, terutama pertumbuhan fisiknya digunakan parameter tertentu, begitu juga dengan perkembangan pada anak sudah banyak cara untuk deteksi dininya
            Deteksi dini pada pertumbuhan dan perkembangan anak sangat penting, agar apabila terjadi gangguan dapat didiagnosis dan dipulihkan lebiah awal, sehingga tumbuh kembang anak dapat berjalan secara optimal melalui pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai  mitra dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kebidanan (spradly, 1985: logan dan dawkin )



1.2 Tujuan
1.    Tujuan Umum
•    Sebagai penuhan tugas kelompok pada mata kuliah PKK 1
•    Agar mahasisiwa dapat menerapkan asuhan kebidanan pada tumbuh  kembang

2.    Tujuan Khusus
a.    Dapat melakukan pengkajian terhadap pasien dengan tumbuh kembang
b.    Dapat merumuskan diagnosa, maslah dan kebutuhan terhadap bayi
c.    Dapat mengidentifikasikan diagnosa,masalah potensial
d.    Dapat mengidentifikasikan diagnosa,maslah potensial yang memerlukan tindakan segera.
e.    Dapat menyusun rencana tindakan untuk memenuhi kebutuhan pasien dengan masalahnya
f.    Dan dapat melaksanankan rencanan tindakan
g.    Dapat mengetahui evaluasi kebidanan pada tumbuh kembang anak.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1     Definisi tumbuh kembang
        Pertumbuhan merupakan bertambah jumlah dan besar nya sel di seluruh bagian tubuh yang secra kuantitatif dapat di ukur,sedang kan perkembangan merupakan bertambah sempurna nya fungsi alat tubuh yang dapat di capai melalui tumbuh kemband dan belajar (wong, 2000).
2.2    Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang.
a.    Faktor ginetik/herediter
Faktor ginetik atau herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapi hasil akhir proses tumbuh kembang anak.faktor ini di tandai dengan intensitas tumbuh kembang anak,yang termasuk faktor ginetik, antara lain:
•    Faktor bawaan yang normal atau patologis, seperti kelainan kromosom(sindrom down), kelainan kranio fasial (celah bibir).
•    Jenis kelamin: Pada umur tertentu laki-laki perempuan sangat berbeda dalam ukuran besar,kecepatan tumbuh,proposi jasmani, dan lain-lain.
Anak dengan jenis kelamin laki-laki pertumbuhan nya cendrung lebih cepat dari pada anak perempuan.
•    Dari segi kedewasaan , perempuan menjadi dewasa lebih dini, yaitu mulai  adolensesi (remaja) pada umur 10 tahun,sedang kan laki-laki mulai umur 12 taahun.
•    Keluarga: banyak di jumpai dalam satu keluarga ada yang tinggi dan ada yang pendek.
•    Ras : Beberapa ahli antropologi menyatakan ras kuning cendrung lebih pendek dibanding dengan ras kulit putih.Suku asmat di papua  berkulit hitam,sementara itu suku dayak di kalimantan berkulit putih.
•    Bangsa: Bangsa asia cendrung bertumbuh pendek dan kecil, sementara itu bangsa amerika cendrung tinggi dan besar.
b.    Faktor lingkungan.
Faktor lingkungan merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam menentukan tercapai dan tidaknya potensi yang sudah di miliki.faktor lingkungan ini dapat meliputi lingkungan prenatal (yaitu lingkungan dalam kandungan) dan lingkungan postnatal (lingkungan setelah bayi lahir).
•    Lingkungan prenatal merupakan linkungan dalam kandungan, mulai dari konsepsi sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu ibu hamil, lingkungan mekanis, zat kimia atau toksin, dan hormonal.
•    Lingkungan PostnatalSelain faktor lingkungan intra uteri terdapat lingkungan setelah lahir yang juga dapat mengaruhi tumbuh kembang anak, seperti budaya lingkungan, sosial ekonomi keluarga, nutrisi, iklim atau cuaca, olahraga,posisi anak dalam keluarga, dan status kesehatan.
c.    Faktor hormonal
Faktor hormonaal yang berperan  dalam tumbuh kembang anak antara lain hormon somatotropin, hormon tiroid, dan hormon glukokortikoid.
•    Hormon somatotropin(growth hormone).Berperan dalam mepengaruhi pertumbuhan tinngi badan menstimulasi terjadinya prolifersi sel kartolago dan sistem skeletal.
•    Hormon tiroid. Berperaan menstimulasi metabolisme tubuh.
•    Hormon glukokortikoid Mempunyai fungsi menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari testis(untuk memproduksi testoteron) dan ovarium (untuk memproduksi estrogen), selanjutnya  menstimulasi perkembangan seks, baik pada anak laki-laki maupun perempuan yang sesuai dengan peran hormonnya(wong,2000).
2.3    Tahap-tahap tumbuh kembang
1.    Masa pranatal
•    Masa mudigah/embrio:konsepsi-8 minggu
•    Masa janin/fetus:9minggu-lahir
2.    Masa bayi:usia 0-1 tahun
•    Masa neonatal: usia 0-28 hari
•    Masa neonata dini:usia 0- 7 hari
•    Masa neonatal lanjut: 8-28 hari
•    Masa pasca neonatal:29 hari-1 tahun
3.    Masa pra sekolah: usia 1-6 tahun
4.    Masa sekolah:usia 6-18/20 tahun
•    Masa pra remaja usia 6-10 tahun
•    Masa remaja:
•    Masa remaja dini
    Wanita , usia 8-13 tahun
    Pria, usia 10-15 tahun
•    Masa remaja lanjut
    Wanita, usia 13-18 tahun
    Pria, usia 15-20 tahun
2.4     Perkembangan pada anak
a.    Perkembangan motorik halus
Perkembangan motorik halus pada tiap tahap perkembangan anak adalah sebagai berikut.
•    Masa neonatus ( 0 - 28 hari )Perkembangan motorik  halus pada masa ini di mulai dengan adanya kemampuan untuk mengikuti garis tengah bila kita memberikan respon terhadap gerakan jari atau tangan.
•    Masa bayi ( 28 hari – 1 tahun )
1.    Usia 1 – 4 bulan,Perkembangan motorik  halus pada usia ini adalah dapat melakukan hal-hal seperti memegang suatu objek, mengikuti objek dari sisi kesisi,mencoba memegang dan memasukan benda ke dalam mulut,memegang benda tapi terlepas,memperhatikan tangan dan kaki,memegang benda dengan ke dua tangan, serta menahan benda di tangan walaupun sebentar.
2.    Usia 4 – 8 bulan ,Perkembangan motorik halus pada usia ini  adalah sudah mulai mengamati benda, mengguna kan ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang, mengekspolorasi benda yang sedang di pegang, mengambil objek dengan tangan ttertangkup, mampu menahan ke dua benda di kedua tangan secara simultan,menggunakan bahu dan tangan sebagai satu kesatuan, serta memindahkan objek dari satu tangan ke tangan lain.
3.    Usia 8 – 12 bulan,Perkembangan motorik halus pada usia ini adalah mencari atau meraih benda kecil, bila di beri kubus mampu memindahkan, mengambil, memegang dengan telunjuk dan ibu jari, membenturkannya, serta meletakkan kubus ke tempatnya.


•    Masa Anak (1-2 tahun)
Perkembangan motorik halus pada usia ini dapat ditunjukkan dengan adanya kemampuan dalam mencoba menyusun atau membut menara pada kubus.
•    Masa Prasekolah
Perkembangan motorik halus dapat dilihat pada anak, yaitu mulai memiliki kemampuan menggoyangkan jari-jari kaki, menggambar dua atau tiga bagian, memilih garis yang lebih panjang dan menggambar orang, melepas objek dengan garis lurus, mampu menjepit benda, melambaikan tangan menggunakan tangannya untuk bermain, menempatkan objek kedalam wadah, makan sendiri, minum dari cangkir dengan bantuan, menggunakan sendok dengan bantuan, makan dengan jari, serta membuat coretan diatas kertas
b.    Motorik Kasar
Perkembangan motorik kasar pada tiap anak pada tiap tahap perkembangan anak adalah sebagai berikut :
•    Masa Neonatus ( 0-28 hari ),Perkembangan motorik kasar yang dapat dicapai pada usia ini diawali dengan tanda gerakan seimbang pada tubuh dan mulai mengangkat kepala.
•    Masa bayi ( 28 hari – 1 tahun)
1.    Usia 1 – 4 bulan Perkembangan motorik kasar pada usia ini dimulai dengan kemampuan mengangkat kepala saat tengkurap,mencoba duduk sebentar dengan ditopang,mampu duduk dengan kepala tegak,jatuh terduduk dipangkuan ketika disokong pada posisi berdiri,kontrol kepala sempurna,mengangkat kepala sambil berbaring terlentang,berguling dari telentang kemiring,posisi lengan dan tungkai kurang fleksi,dan berusaha untuk merangkak.
2.    Usia 4 – 8 bulanPerkembangan motorik kasar awal bulan ini dapat dilihat pada perubahan dalam aktifitas, seperti posisi telungkup pada alas dan sudah mulai mengangkat kepala dengan melakukan gerakan menekan kedua tangannya.
3.    Usia 8 – 12 bulanPerkembangan motorik kasar dapat di awali dengan duduk tanpa pegangan,berdiri dengan pegangang,bangkit lalu berdiri,berdiri 2 detik,dan berdiri sendiri.

•    Masa anak (1 – 2 tahun)
Dalam perkembangan masa anak terjadi perkembangan motorik kasar secara signifikan.Pada masa ini anak sudah mampu melangkah dan berjalan dengan tegak.
•    Masa prasekolah
Perkembangan motorik kasar masa prasekolah ini dapat di awali dengan kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama 1 – 5 detik,melompat dengan 1 kaki,berjalan dengan tumit ke jari kaki,mejelajah,membuat posisi merangkak dan melangkah dengan bantuan.
c.    Perkembangan bahasa
Berikut ini  akan di sebutkan perkembangan bahasa pada tiap tahap usia anak.
•    Masa neonatus ( 0 – 28 hari )Perkembangan bahasa masa neonatus ini dapat di tunjukan dengan ada nya kemampuan bersuara(menangis) dan bereaks terhadap suara atau bel.
•    Masa bayi ( 28 hari – 1 tahun)
a.    Usia 1 – 4 bulan,Perkembangan bahasa pada usia ini di tandai dengan adanya kemampuan bersuara dan tersenyum,mengucapkan hurup hidup, berceloteh, mengucapkan kata ”ooh/ah”,tertawa dan berteriak,mengoceh spontan,serta bereaksi dengan mengoceh.
b.    Usia 4 – 8 bulan, Perkembangan bahasa pada usia ini dapat menirukan bunyi atau kata-kata,menoleh ke arah suara atau sumber bunyi,tertawa, menjerit, mengunakan vokalisasi semakin banyak,seta mengunakan kata yang terdiri atas duasuku kata dan dapat membuat dua bunyi vokal yang bersamaan seperti “ ba-ba”.
c.    Usia  8 – 12 bulan Perkembangan bahasa pada usia ini adalah mampu mengucapkan kata “ papa” dan “ mama”  yang belum spesipik, mengoceh hingga mengatakan nya secara spesifik,serta dapat mengucapkan 1-2 kata.
•    Masa anak ( 1 – 2 tahun )
Perkembangan bahasa masa anak ini adalah dicapainya kemampuan bahasa pada anak yang mulai di tandai dengan anak,mampu memiliki sepuluh pembendaharaan kata,tingginya ke mampuan meniru,mengenal, dan responsip terhadap orang lain; mampu menunjukan dua gamba;mampu mengombinasikan kata-kata;serta mulai mampu menunjukan lambaian anggota badan.
•    Masa prasekolah
Perkembangan bahasa diawali dengan adanya kemampuan menyebutkan hingga empat gambar;menyebutkan 1 hingga 2 warna; menyebutkan kegunaan benda; menghitunh; mengartika 2 kata; mengerti 4 kata depan; mengerti beberapa kata sifat dan jenis kata lainnya; menggunakan bunyi untuk mengidentifikasikan objek,orang,dan aktifitas;menirukan berbagai bunyi kata; memahami arti larangan; serta merespon panggilan orang dan anggota keluarga dekat.
2.5    Penyebab Gangguan Tumbuh Kembang
•    Kekurangan makanan bergizi
•    Sering sakit atau menderita penyakit menahun
•    Punya kelainan bawaan yang mempenngaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak, tubuh dan anggota gerak anak
•    Kurang mendapatkanperhatian dan kasih sayang keluarga
•    Kurang melatih anak atau stimulasi di rumah.
2.6    Imunisasi 
Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu.Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit.
Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan bayi dan anak terhadap penyakit.
Imunisasi adalah sengaja memasukkan vaksin berupa mikroba hidup yang sudah dilemahkan. (Mencegah Dan Mengatasi Demam Pada Balita : 25)
Imunisasi adalah tindakan yang menimbulkan kekebalan terhadap tubuh. (Maimunah, Siti, 2005)
Imunisasi adalah dengan sengaja memasukkan vaksin yang berisi mikroba hidup yang sudah dilemahkan pada balita.
Imunisasi yang merupakan salah satu pencegahan penyakit infeksi senus yang paling efektif biaya. (Behram, 1999 : 1248)
Vaksin adalah suatu suspensi mirkoorganisme hidup yang dilemahkan atau mati atau bagian antigenic, agen ini yang diberikan pada hospes potensial untuk menginduksi imunitas dan mencegah penyakit. (Wahab, Samik, 1999)
        Vaksinasi merupakan salah satu cara mencegah penyakit yang paling murah dan efektif. (Widjaja, 2002)
a.    Imunisasi DPT
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang
Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur kurang dari 7 tahun. Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada otot lengan atau paha.(wong, 2000).

Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT.
Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster vaksin Td pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanya memberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan booster).
Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandung vaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun.
DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi karena adanya komponen pertusis di dalam vaksin.
Pada kurang dari 1% penyuntikan, DTP menyebabkan komplikasi berikut:
•    Demam tinggi (lebih dari 40,5° Celsius)
•    Kejang
•    Kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya)
•    Syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon).
Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasi DPT bisa ditunda sampai anak sehat.Jika anak pernah mengalami kejang, penyakit otak atau perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya membaik atau kejangnya bisa dikendalikan.1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan.Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen (atau ibuprofen).Untuk mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan kompres hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang bersangkutan.( Behrman, R.E. dkk. 2000)
DPT COMBO I merupakan vaksin yang mangandung DPT berupa toksoid difteri dan toksoid  tetanus yang dimurnikan dan pertusis (batuk rejan )yang diinaktivasi serta vaksin hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mangandung HBsAg  yang diproduksi melalui teknologi DNA rekombinan pada sel ragi .setiap dosis vaksin mengandung:
Zat berkhasiat : toksoid difteri murni 20 le,toksoid tetanus murni 7,5 lf ,inaktivasi B pertusis 12 ou dan HbsAg 5 mcg.zat tambahan : aluminium phospate 1,5 mg,natrium clorida 4,5 mg,methiolate 0,05mg
1.    Indikasi
Memberikan kekebalan/imunitas aktif terhadap difteri,tetanus,pertusis dan hepatitis B
2.    Cara kerja obat
Merangsang tubuh membentuk antibody terhadap difteri,tetanus,pertusis,dan hepatitis B.
3.    Posologi
Vaksin DPT-HB diberikan secara IM terdiri dari 3 dosis  masing2 0,4 ml sebagai berikut:
Dosis pertama : pada bayi usia 2 bulan
Dosis kedua     :satu bulan setelah imunisasi pertama
Dosis ketiga        :satu bulan setelah imunisasi kedua
4.    Efek samping
Reaksi local atau sistemik yang bersifat ringan,kasus yang sering terjadi adalah bengkak,nyeri,penebalan kemerahan pada bekas suntikan,Menangis >3 jam dan kadang kadang terjadi reaksi umum seperti demam >38,50 C
5.    Kontraindikasi
Hipersensitivitas terhadap komponen vaksin,reaksi berat terhadap dosis vaksin kombinasi sebelumnya,atau batuk batuk reaksi sejenis lainnya adalah merupakan kontraindikasi terhadap dosis lanjutan vaksin kombinasi atau vaksin tertentu yang diketahui merupakan efek samping.terdapat beberapa kontraindikasi terhadap dosis  pertama DPT : fits atau gejala cerebral abnormality pada periode baru lahir atau neurological abnormality serius lainnya merupakan kontra indikasi terhadap dosis pertama DPT karena komponen pertusis.pada kasus ini,vaksin jangan diberikan dalam bentuk kombinasi,tetapi sebaliknya diberikan secara terpisah yaitu dengan memberi vaksin DT (bukan DPT) serta hepatitis HB 
6.    Peringatan dan perhatian
Hati hati penggunaan pada anak dengan riwayat kejang dan demam.setiap penyuntikan harus menggunakan syringe dan jarum yang steril
7.    Cara penyimpanan vaksin
Disimpan pada suhu antara +2 sampai +80C
b.    Imunisasi DT
Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus.Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi difteri dan tetanus.
Cara pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan imunisasi DPT.
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha sebanyak 0,5 mL.Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sedang sakit berat atau menderita demam tinggi.Efek samping yang mungkin terjadi adalah demam ringan dan pembengkakan lokal di tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung selama 1-2 hari.
c.    Imunisasi Polio
Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis.Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan/tungkai. Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian.
Terdapat 2 macam vaksin polio:
IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung virus polio yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan
OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.
Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, bentuk monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio.Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu.Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan SD (12 tahun).Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes (0,1 mL) langsung ke mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang berisi air gula.
Kontra indikasi pemberian vaksin polio:
•    Diare berat
•    Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi, kortikosteroid)
•    Kehamilan.
Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan dan kejang-kejang. Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan primer, sedangkan dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibodi sampai pada tingkat yang tertinggi. Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi dasar, kepada orang dewasa tidak perlu dilakukan pemberian booster secara rutin, kecuali jika dia hendak bepergian ke daerah dimana polio masih banyak ditemukan.
Kepada orang dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio dan perlu menjalani imunisasi, sebaiknya hanya diberikan IPV. Kepada orang yang pernah mengalami reaksi alergi hebat (anafilaktik) setelah pemberian IPV, streptomisin, polimiksin B atau neomisin, tidak boleh diberikan IPV. Sebaiknya diberikan OPV. Kepada penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita AIDS, infeksi HIV, leukemia, kanker, limfoma), dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV juga diberikan kepada orang yang sedang menjalani terapi penyinaran, terapi kanker, kortikosteroid atau obat imunosupresan lainnya. IPV bisa diberikan kepada anak yang menderita diare. Jika anak sedang menderita penyakit ringan atau berat, sebaiknya pelaksanaan imunisasi ditunda sampai mereka benar-benar pulih. IPV bisa menyebabkan nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung hanya selama beberapa hari. (mailto:balita-anda-subscribe@balita-anda.com)
Vaksin dari virus polio (tipe 1,2 dan 3) yang dilemahkan, dibuat dlm biakan sel-vero : asam amino, antibiotik, calf serum dalam magnesium klorida dan fenol merah.
-    Bentuk faksin
Vaksin berbentuk cairan dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon, pipet.
-    Pemberian
Pemberian secara oral sebanyak 2 tetes (0,1 ml)
Vaksin polio diberikan 4 kali, interval 4 minggu
munisasi ulangan, 1 tahun berikutnya, SD kelas I, VI
-    Efek samping
Diare akibat gangguan penyerapan vaksin.
-    Jenis vaksin
IPV salk
OPV sabin  IgA local
-    Penyimpanan
Penyimpanan pada suhu 2-8°C
Virus vaksin bertendensi mutasi di kultur jaringan maupun tubuh penerima vaksin. Beberap virus diekskresi mengalami mutasi balik menjadi virus polio ganas yang neurovirulen (Nur'aini,2007)
d.    Penyimpanan Vaksin
Penyelenggaraan program imunisasi di Indonesia telah terbukti efektif antara lain dengan terbasminya penyakit cacar, dimana Indonesia dinyatakan bebas cacar sejak tahun 1974. Dalam penyelenggaraan program imunisasi dibutuhkan dukungan vaksin, alat suntik dan  rantai dingin (cold chain) agar kualitas vaksinasi sesuai dengan standar guna menumbuhkan imunitas yang optimal bagi sasaran imunisasi.
Penyelenggaraan program imunisasi di Indonesia telah terbukti efektif antara lain dengan terbasminya penyakit cacar, dimana Indonesia dinyatakan bebas cacar sejak tahun 1974. Dalam penyelenggaraan program imunisasi dibutuhkan dukungan vaksin, alat suntik dan  rantai dingin (cold chain) agar kualitas vaksinasi sesuai dengan standar guna menumbuhkan imunitas yang optimal bagi sasaran imunisasi.
Vaksin adalah suatu produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman, atau racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan yang berguna untuk merangsang timbulnya kekebalan tubuh seseorang. Bila vaksin diberikan kepada seseorang, akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.
Sebagai produk biologis, vaksin memiliki karakteristik tertentu dan memerlukan penanganan yang khusus sejak diproduksi di pabrik hingga dipakai di unit pelayanan. Suhu yang baik untuk semua jenis vaksin adalah + 2 ºC s/d  + 8 ºC.
Penyimpangan dari ketentuan yang ada dapat mengakibatkan kerusakan vaksin sehingga menurunkan atau menghilangkan potensinya bahkan bila diberikan kepada sasaran dapat menimbulkan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang tidak diinginkan. Kerusakan vaksin dapat mengakibatkan kerugian sumber daya yang tidak sedikit, baik dalam bentuk biaya vaksin, maupun biaya-biaya lain yang terpaksa dikeluarkan guna menanggulangi masalah KIPI atau kejadian luar biasa.
Selama ini masih banyak petugas kesehatan yang beranggapan bahwa bila ada pendingin maka vaksin sudah aman, malahan ada yang berfikir kalau makin dingin maka vaksin makin baik. Pendapat itu perlu diluruskan! Semua vaksin akan rusak bila terpapar panas atau terkena sinar matahari langsung. Tetapi beberapa vaksin juga tidak tahan terhadap pembekuan, bahkan dapat rusak secara permanen dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan bila vaksin terpapar panas.
Berdasarkan sensitivitas terhadap suhu, penggolongan vaksin adalah sebagai berikut:
a. Vaksin sensitive beku (Freeze sensitive = FS), adalah golongan vaksin yang akan rusak terhadap suhu dingin dibawah 0ºC (beku) yaitu: Hepatitis B, DPT, DPT-HB, DT, TT
b. Vaksin sensitive panas (Heat Sensitive = HS), adalah golongan vaksin yang akan rusak terhadap paparan panas yang berlebih yaitu: BCG, Polio, Campak.
Pemantauan suhu vaksin sangat penting dalam menetapkan secara cepat apakah vaksin masih layak digunakan atau tidak. Untuk membantu petugas dalam memantau suhu penyimpanan dan pengiriman vaksin ini, ada berbagai alat dengan indikator yang sangat peka seperti Vaccine Vial Monitor (VVM), Freeze watch atau Freezetag serta Time Temperatur Monitor (TTM).
Dengan menggunakan alat pantau ini, dalam berbagai studi diketahui bahwa telah terjadi berbagai kasus paparan terhadap suhu beku pada vaksin yang peka terhadap pembekuan seperti Hepatitis B, DPT dan TT. Dengan adanya temuan ini maka telah dilakukan penyesuaian pengelolaan vaksin untuk mencegah pembekuan vaksin. (http://www.tribunjabar.co.id)







  





DAFTAR PUSTAKA
Behrman, R.E. dkk. 2000. Ilmu kesehatan Anak Nelson. Volume 1. Diterjemahkan oleh A.Samik wahab. Jakarta: EGC.
Narendra, M.B. 2002. Tumbuh kembang anak dan remaja.Jakarta:Sagung Seto
Wong, D.L.2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Diterjemahkan oleh Monica Ester.Jakarta:
Administrator. 2009. http//.imunisasi-pada-anak..com. jambi, 04 Oktober 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar